Thursday, May 2, 2013

Dampak Negatif Radiasi BomNuklir Bagi Janin, Anak-anak, dan Remaja


                   
Nuklir adalah  benda yang masih "misterius". Baru sedikit teknologi manusia yang mampu menguak rahasia nuklir. Sebenarnya dengan logika sederhana kita bisa berpikir bahwa setiap benda tersusun atas atom (nuklir) dengan kata lain kita bisa merekayasa semua benda yang ada di bumi dengan merubah struktur atom(proton, neutron, elektron) namun hal itu tidak semudah membalik telapak tangan.

 teknologi nuklir manusia zaman sekarang lebih banyak berkaitan dengan energi melalui fusi (hidrogen) atau fisi (uranium). Jadi paradigma bahwa nuklir adalah bom itu diakibatkan banyaknya propaganda dan besarnya pemberitaan media yang berkaitan dengan nuklir. Hal ini disebabkan teknologi nuklir yang kita miliki sudah cukup untuk membuat benda (bom) yang memiliki daya ledak sangat besar. Hulu ledak nuklir militer zaman sekarang tidak bisa lagi disamakan dengan zaman hiroshima-nagasaki Sekarang kemampuan bom nuklir yang dimiliki oleh berbagai negara maju sudah sangat mengerikan bisa dipastikan bumi akan hancur jika terjadi PD III (Perang nuklir). 
Menurut Dr.David Brenner,direktur CenterforRadiological Research at Columbia University,dampak radiasi bom nuklir tidak bersifat langsung, bisa berminggu kemudian baru muncul gejalanya. Ia menyebutkan dampak radiasi pada tubuh tergantung pada material radioaktif yang dilepaskan dan durasi paparan.Level paparan yang tinggi bisa menyebabkan sindrom radiasibahkan kematian.
Radiasi nuklir dapat mencemari rantai makanan yang bersentuhan langsung dengan manusia. Radiasi tersebut akan menimbulkan gejala mual, muntah, kelelahan, rambut rontok, serta diare. Pada level yang lebih tinggi, korban yang terpapar bisa meninggal dalam hitungan minggu. Penyebabnya adalah usus yang gosong.
"Ledakan nuklirmembuat penduduk terpapar radiasi dengan efek jangka panjang adalah kanker, seperti kanker tiroid, kanker tulang, dan leukemia. Anak-anak dan janin adalah pihak yang sangat rentan terhadap risiko ini," kata Lam Ching-wan, patolog kimia di Universitas Hong Kong, seperti dikutip dari Reuters Health, Kamis (17/3/2011)."Untuk sebagian orang, bahkan sejumlah kecil radiasi dapat meningkatkan risiko kanker. Semakin tinggi radiasi, semakin tinggi risiko kanker," lanjut Lam yang juga anggota di American Board of Toxicologists.
Bahan radioaktif dibawa hanya dalam hitungan menit lewat tetesan air di udara. Bahan ini kemudian dapat langsung dihirup ke dalam paru-paru, dan bila disiram air lewat hujan buatan ke laut dan tanah, akhirnya bisa mencemari tanaman, kehidupan laut, dan air minum.
Beberapa jenis material radioaktif ada yang dengan mudah diserap tubuh dan bertahan.Misalnya saja Iodinyang akan langsung diserap kelenjar tiroid atau strontium yang akan masuk ke tulang. Jenis radioaktif lainnya, seperti tritium, akan dengan cepat dikeluarkan tubuh.
Radiasi akibat ledakan bom nuklir  itu tidak akan hilang dalam tempo 50 tahun. Seperti diketahui kelenjar tiroid, terletak di bagian depan leher, fungsinya melepaskan hormon-hormon yang membantu mengatur metabolisme tubuh. Kelenjar ini bekerja sangat keras selama masa pertumbuhan yang cepat dan perkembangan pada anak-anak dan remaja.Penelitian sebelumnya telah menunjukkan sel-sel tiroid sangat rentan terhadap radiasi pengion, misalnya  jenis yang dihasilkan oleh krisis nuklir Chernobyl atau ledakan atom di Jepang. Kanker tiroid adalah salah satu kanker yang paling radiosensitive.
Anak-anak berusia kurang dari 18 tahun, bayi, serta janin di dalam kandungan merupakan kelompok yang paling beresiko pada paparan radiasi karena sel-sel dalam tubuh mereka masih aktif membelah diri.Radiasi nuklir akan menganggu kemampuan sel untuk membelah diri dan berproduksi. Sel-sel di usus besar biasanya merupakan bagian tubuh yang paling cepat membelah diri. Demikian juga halnya dengan sel pembentuk darah di sumsung tulang yang sangat rentan terkena radiasi.
Kebanyakan ahli sepakat bahwa anak-anak yang sedang dalam masa pertumbuhan dan janin adalah pihak yang paling berisiko terhadap radiasi nuklir. Sebab, sel mereka membelah pada tingkat yang lebih cepat dibandingkan orang dewasa. “Mereka juga mengonsumsi susu sapi lebih banyak daripada orang dewasa yang menempatkan mereka pada risiko lebih lanjut,” kata seorang ilmuwan Jepang yang merawat korban ledakan bom atom di Hiroshima.
Sapi seperti penyedot debu, mengambil yodium radioaktif yang mendarat di padang rumput luas. Kemudian, partikel-partikel tersebut sangat mudah terkonsentrasi dan masuk ke dalam susu. Ini seperti yang terjadi di Chernobyl, Ukraina, dan sayangnya, informasi tentang risiko ini belum diberitahukan kepada orangtua.
salah satu hipotesis yang ditemukan pada anak-anak menunjukan jaringan tiroid tersebut lebih sensitif terhadap radiasi. Dengan pelacakan diagnosa kanker baru,  orang Jepang ketika terjadi pemboman tahun 1945, tidak ditemukan orang dewasa yang terkena radiasi mengindap penyakit kanker tiroid di kemudian hari, tapi untuk anak-anak atau remaja,  pada saat terjadinya pemboman rentan terhadap kanker tiroid. Hal itu terjadi akibat radiasi saat bom atom yang dijatuhkan di Jepang. Para peneliti menghitung sekitar 36 persen dari 191 kasus kanker tiroid akibat terkena radiasitersebut.

Semoga semua bisa menjadi pelajaran buat anak dan generasi kita nantinya.




Refrensi:
Dampak radiasi nuklirbag imanusia,http://aplikasikomputer-titismolitisa.blogspot.com, di unduhtgl, 26 Januari 2013
Azhry Aseph, pengertian nuklir dan bahaya nuklir,http://asep-alazhary.blogspot.comdi unduhtgl, 26 Januari 2012

Bahaya Radiasi Nuklir Terhadap Anak- anakhttp://www.jualbeliforum.com, di unduhtgl, 27 Januari 2013










No comments:

Post a Comment