Wednesday, May 1, 2013

SNW( Sistimatika Nuzulnya Wahyu): Pedoman Hidayatullah Membangun Peradaban Islam


Pondok Pesantren Hidayatullah lahir dan berdiri di atas manhaj   Sistematika Nuzulnya Wahyu (SNW). Kita menyakini  bahwa SNW ini selaras dan merujuk pada  framework Islam dan ittiba' kepada Rasulullah saw.
 
Manhaj ini lebih penting dari materi pelajaran dan guru. Manhaj inilah yang memberinya bentuk dan warna yang khas. Manhaj  diperlukan Pesantren Hidayatullah untuk memahami dirinya sendiri.  Manhaj  ini tidak hanya berurusan dengan fakta dan data. Ia berkaitan dengan pendekatan metodologis. Artinya, bagaimana data dan fakta itu dipahami. Data dan fakta yang ada itu harus diselaraskan dengan manhaj ini
Itulah salah satu alasan mengapa Hidayatullah tidak bisa memakai manhaj  peradaban asing. Ia bisa memakai metode asing tapi bukan manhajnya. Sains Barat, misalnya, tidak sepenuhnya ditolak atau diterima. Unsur asing perlu dicerna, diproses untuk diserap atau dibuang. Persis metabolisme tubuh manusia. Sebagian makanan perlu diserap, sebagian lagi harus dibuang. Kalau tidak demikian, maka kita akan salah  atau bahkan melenceng jauh dari cita-cita berqur’an dan bersunnah.
Pendidikan yang ada di Pondok Pesantren Hidayatullah (baik proses maupun hasilnya)  seluruhnya harus  merujuk dan dijiwai oleh manhaj ini. Ia harus dapat diterjemahkan baik dalam proses belajar mengajar, budaya kerja, manajemen, pengambilan keputusan, pembinaan SDM dan seluruh aspek lainnya yang ingin  dicapai oleh lembaga ini.
Konsekuensinya Ustadz/ustadzah,murrabi, pengasuh, murid/santri, karyawan dan seluruh warga Pesantren ini harus memahami manhaj ini dengan baik serta mengamalkan dalam kehidupan sehari-hari karena mereka adalah bagian yang berperan penting dalam memperagakan manhaj ini dalam kehidupan nyata.
Manhaj ini membahas berbagai hal yang merupakan penanaman nilai, konsep, visi, standar, dan model kepribadian serta keyakinan:
1. Surah al-'Alaq memantapkan aspek nilai-nilai dasar akidah, yang tidak saja mencakup rukun iman dalam pengertian formal, namun bagaimana nilai-nilai dari iman itu membentuk pemikiran, sehingga menjadi rujukan dalam berpikir, merasa, berbicara, bertindak. Syarat-syarat syahadat, misalnya, pada dasarnya merupakan "pagar" pikiran, perasaan, perkataan dan perilaku (ilmu, yaqin, qabul, inqiyad, ikhlash, shidq, mahabbah) kebalikan dari (jahl, syakk, radd, tark, syirk, kadzib, baghdha').
2. Surah al-Alaq ini mengandung konsep: Konsep Rabb/ ketuhanan, Konsep penciptaan, Konsep manusia, Konsep ilmu, pendidikan dan Adab, Konsep alam, Konsep syahadat,  Konsep loyalitas.
 3. Surah al-Qalam mengandung prinsip-prinsip umum dienul Islam, yakni: khittah seorang muslim,  konsep masa depan, konsep akhlaq, konsep benar-salah. Fokus utamanya adalah membangun khiththah hidup ber-Qur'an sebagai ideologi kebenaran. Selamat tidaknya kita, berkah tidaknya hidup kita, dan maju tidaknya kita tergantung kepada kekokohan dan keteguhan kita dalam menempuh jalan ini.Awalnya,pengikut jalan ini pasti sedikit,namun suatu saat pasti akan membesar asal kita konsisten dengan sikap kita.
4. Surah al-Muzzammil mengupas masalah tazkiyah dan ibadah, yaitu 7 bekal spiritual seorang muslim: qiyamul-lail, tartil al-Qur'an, dzikrullah, tabattul (total di jalan Allah), tawakkal, sabar, hijrah. Fokus utamanya adalah pencerahan spiritual dan internalisasi nilai-nilai Al-Qur'an. Menjadikan ibadah dan taqarrub kepada Allah sebagai tradisi, baik melalui ibadah wajib maupun nafilah.
5. Surah al-Muddatsir membahas tentang konsep perubahan atau prinsip-prinsip dasar tarbiyah dan dakwah, yaitu: berfokus kepada akhirat, hanya membesarkan nama Allah, menyucikan "pakaian" (kepribadian, keluarga, dsb), menghindari dosa, berhala, dan najis, ketulusan dalam memberi, berdakwah tanpa pamrih, bersabar. Fokus utamanya adalah transformasi nilai-nilai Al-Qur'an ke dalam kehidupan. Mulailah mencari teman, dengan mengajak orang untuk berubah menjadi lebih baik, yakni: menjadi bagian dari penggerak perubahan (agent of change).
6. Surah al-Fatihah merangkum visi peradaban Islam, yakni peradaban yang berakar kepada tauhid dan semata-mata untuk mengabdi kepada Allah ta'ala. Milikilah visi besar, apapun keadaan kita hari ini. Al-Fatihah artinya Pembuka, semacam kunci yang akan menjadi pemandu untuk memahami bangunan peradaban yang akan ingin ditegakkan, yakni seluruh nilai-nilai yang terkandung di dalam al-Qur’an.

Jadi sebagai lembaga Islam yang punya komitmen dalam membangun peradaban Islam, maka pesantren Hidayatullah  harus senantiasa menjaga, memelihara dan mengaplikasikan  manhajnya dalam kehidupan sehari-hari. Jika konsep-konsep penting ini tidak lagi digunakan secara benar, maka ia merupakan pertanda yang jelas bahwa ruh lembaga  itu telah mati.
Dalam praktiknya proses Islamisasi ilmu ini meliputi langkah-langkah seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah saw  seperti  dalam QS Al-Jumu’ah: 2-3. “Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka kitab dan Hikmah (As Sunnah). dan Sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata. Dan (juga) kepada kaum yang lain dari mereka yang belum berhubungan dengan mereka. dan Dia-lah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” Ada tiga kata kunci disini: tilawah, tazkiyah, dan ta’limah.
1. Tilawah, dalam penggunaannya di dalam Al-Qur’an, kata ini selalu dikaitkan dengan membaca teks suci, yakni Al-Qur’an dan wahyu Allah saja, bukan bacaan selainnya. Pengertian ini wajar, sebab makna dasar kata “tilawah” bukan hanya membaca huruf, tetapi ada konsekuesi membaca untuk mengamalkan, mengikuti, menjalankan isi dari bacaan itu. Jelasnya, dalam proses ini, tidak bisa dicampuri dengan sumber panduan lain, sebab tahap ini sangat menentukan keberhasilan tahap selanjutnya, yakni tahap tazkiyah. Seseorang yang dalam proses pembinaan awal (tilawah) bukan dengan apa yang ditunjukkan Allah, ia ter-tazkiyah oleh sistem dan pemikiran lain, dan hasilnya pasti berbeda. Artinya, dengan menjalankan Al-Qur’an dan perintah Allah sajalah seseorang itu bisa menjadi suci. Sederhana, praktis, murah. Di SNW ini adalah bagian dari nilai-nilai inti surah al-Alaq dan al-Qalam.
2. Tazkiyah, dalam pengertian dasarnya berarti tumbuh, berkembang, bersih. Artinya, dengan menaati hukum-hukum dan tuntunan Allah, seseorang akan tumbuh, berkembang, bersih jiwa dan kehidupannya, sehingga siap untuk memasuki fase ketiga, ta’limah. Dalam SNW ini adalah bagian dari surah al-Muzzamil, karena hanya dengan menyibukkan diri dengan ibadah dan taqarrub kepada Allah saja aqidah seseorang akan tumbuh, berkembang dan bersih.
3. Ta’limah, pada prinsipnya adalah proses pembekalan ilmu, yakni memberikan landasan rasional terhadap apa yang dipercaya, diamalkan, direncanakan, dll, yakni mengajarkan nilai-nilai Qur’ani dan Sunnah. Ini adalah nilai-nilai dari al-Muddattsir, yaitu transformasi al-Qur’an dalam kehidupan.







No comments:

Post a Comment